REANIMATED

Malam yang dingin dan berangin di suatu ha-laman yang berumput. Beberapa pohon tumbuh mem-bentuk siluet-siluet dalam kegelapan. Di sana-sini muncul pula siluet tubuh manusia, anggun, dingin dan bersayap. Patung-patung malaikat. Ada batu-batu berwarna keabu-abuan berdiri di atas tanah, batu-batu yang menyerupai bentuk-bentuk yang tidak asing. Bentuk yang sering dijumpai di pekuburan.
Sebuah bangunan bediri di tengah lapangan itu. Bangunan kecil dari batu kapur, dengan menaranya yang menyembunyikan lonceng kuningan yang tak bersuara. Ada cahaya berpendar dari dalam jendelanya yang tertutup mozaik kaca-kaca berwarna. Cahaya itu seolah menghidupkan sosok malaikat yang terukir di kaca jendela.
Dalam ruangan yang hampir kosong, terbaring dia atas bangku kayu tua, sesosok tubuh wanita yang pucat. Rambut hitamnya tampak agak kusut, gaun yang di kenakannya tampak berasal dari puluhan tahun yang lalu, hitam, sehitam rambutnya. Matanya tertutup, ada desah napas pelan yang terlihat dari dadanya yang naik turun.
Seorang pria duduk tak jauh darinya, mengamati dengan sabar.Ia tampak agak lelah, yang membuatnya tampak lebih tua. Namun jika dilihat lagi, sebenarnya ia terlihat tidak terlalu tua. Namun matanya yang teduh, seolah telah melihat dunia selama ratusan tahun. Meninggalkan sorot penuh pengetahuan dan kekuatan.
Gadis itu membuka matanya, sedikit demi sedikit, silau karena cahaya yang tiba-tiba memasuki rongga mata.
“Aku…aku dimana??” tanyanya perlahan.
”Selamat datang kembali, Sarah…” kata si pria.
”Siapa kau?”
”Aku adalah orang yang membawamu kembali.”
Gadis itu duduk. Ia memegang kepalanya, seakan lama ia tidak menyangga kepalanya sendiri. Ia melihat sekeliling….matanya menerawang, mengingat apa yang terasa begitu lama dilupakannya.
”Bukankah….seharusnya aku ada di rumah?” katanya pelan. Tiba-tiba matanya menjadi liar dan panik. “Ada banyak werewolf menyerang rumah kami….ayahku, dia melawan mereka…aku datang untuk membantu….rumah kami berantakan..banyak darah…mereka akan membunuh kami.”
“Aku tahu, Sarah.”
Gadis memandang sekeliling, mencari-cari, lalu memandang si pria dengan pandangan bertanya.
”Dimana Ayahku?”
”Maafkan aku, Sayang… Aku tidak bisa menghidupkan ayahmu. Jiwa Hunter dilindungi, aku tidak dapat menariknya kembali.”
”Menghidupkan kembali???? Apa maksudmu?”
Pria itu tersenyum.
”Hal yang kau ingat tadi, terjadi lebih dari sepuluh tahu yang lalu, Sarah Lake. Kalian telah tewas dalam penyerangan itu.”
Sarah terkejut, dia memandang pria itu seolah – olah yang baru saja didengarnya adalah lelucan paling tidak lucu. Tapi kemudian ia mengingat kembali, tombak panjang yang melayang ke arahnya lalu berakhir di dadanya.
“Ayah, tolong sampaikan maafku pada Milosh…” Ia ingat pernah mengatakannya, hal terahir yang dia katakan sebelum kegelapan datang.
”Milosh…..seharusnya dia menungguku di pelabuhan.” ungkapnya dengan sedih.
Pria itu tersenyum kembali.
”Jangan khawatir, Sarah….Dia tetap menunggumu hingga kini. Dan kau akan bertemu dengannya, segera….”

* * *

”Sarah…Sarah!!”
”Selamat malam, Milosh!” terdengar suara sama-samar dalam ketidaksadaran Milosh. Ia membuka mata.
”Sarah?….Oh, kau Mary” katanya.
”Ini sudah keduapuluh kalinya kau tertidur di laboratoriumku.” ujar Mary sambil mengangkat tabing berisi cairan kekuningan.
”Benarkah? Kau menghitungnya?”
Mary hanya menyeringai.
Milosh beranjak bangkit dari tempat duduknya. Berjalan dengan lesu menuju pintu.
”Milosh…” panggil Mary ragu.
Milosh menoleh.
”Kau masih merindukan Sarah?”
”Seperti yang kau lihat, aku tidak akan berhenti memikirkan sarah.”
Milosh pergi meninggalkan laboratorium. Mary memandangnya dengan sedih,
DUAARR!!!!
Suara ledakan terdengar dari pojok ruangan. Mary cepat-cepat menghampiri sumber suara itu.
“What the hell…!!!!” seru Mary.
“Ternyata ini larutan yang tidak berguna.” kata Uriel sambil memegangi tabung reaksi yang telah kosong.
“MARY!!! APA YANG KAU LAKUKAN??!!” gelegar suara Angelique membuart Mary berjengit.
”Bukan aku, Angelique.”
”Kalau kau masih ingin kita mempunyai rumah, berhentilah meledakkan sesuatu!” seru Angelique lagi.
Mary berusaha membela diri, tapi kemudian ia menyadari hal itu hanya akan membuang tenaganya. Ia beralih menatap Uriel dengan tajam.
”Kenapa kau melihatku seperti itu?”
”Masih merasa tidak bersalah?!”
”Bersalah? Atas apa? Seharusnya kau berterimakasih kepadaku, aku baru saja membantumu menyeleksi larutan-larutanmu.” Uriel menunjukkan tabung yang telah kosong. ”Larutan in tidak berguna, mudah meledak dan membahayakan banyak orang.”
Mary menggeram jengkel.
”Aku tidak habis pikir …Kenapa bisa ada orang sebodoh dia!!” katanya. ”Kau ini pernah belajar kimia tidak sih?!”
”Apa maksudmu? Kau pikir aku bodoh?”
”Dan sangat menyebalkan!”
”Okay…okay, kita lihat saja nanti, Anak ingusan.”
Uriel menghilang dari pandangan.
”Anak ingusan???” pikir Mary. ”Yeah..yeah..mungkin Claudius yang mengajarinya. Dia kan memang sama dengan Claudius, orang tua primitif. Kenapa sih dia selalu mengacaukan hariku?!! Menyebalkan! Sama seperti Claudius. Dan yang ini malah lebih parah. Apa ini termasuk dalam rangkaian kutukan vampireku…Oh no!!! Jangan-jangan semua keturunan bangsawan vampire seperti itu….”
”Aku mendengarnya, Mary….” celetuk Angelique.
Mary menoleh.
”Mendengar apa?”
”Gerutuanmu dalam hati.”

* * *

Seperti pada malam-malam sebelumnya, Milosh duduk di pelabuhan seorang diri. Menunggu kekasihnya yang telah lama hilang, cinta sejatinya yang sangat mustahil untuk datang. Ia kembal menatap cahay lampu kapal-kapal dari kejauhan dengan pandangan kosong. Kadang ia berhalusinasi Sarah melabaikan tangan dari atas kapal-kapal itu. Meyuruhnya bergegas naik dan mereka bisa hidup bahagia selamanya.
Tanpa Milosh sadari, serang wanita sedang mengamatinya dari kejauhan. Ia mengenakan kerudung hitam yang menyembunyikan sebagian wajahnya dalam bayabg-bayang. Wanita itu tersenyum.
”Kau memang masih menungguku, Milosh.” katanya pelan.
Ia melangkahkan kaki hendak menghampiri Milosh. tepai langkahnya terhenti ketika seorang gadis tampak mendekati pujaan hatinya itu. Sepertinya Milosh dan gadis itu telah saling mengenal.
”Siapa dia??”
* * *

”Andai saja aku bisa membuat formula untuk menghilangkan kutukanmu, Milosh.” kata Mary yang kemudian duduk di samping Milosh.
”Mary?”
Mary menyeringai.
”Aku kesepian di kastil.”
”Bukankah sekarang ada sepupu Claudius?”
”Hah?!! Uriel maksudmu?! Mendengar namanya saja mood-ku bisa langsung buruk.” ujar Mary geram. ”Ayolah, jangan bicarakan dia! Kita ke Nutting Cafe yuk!”
Keduanya menhilang di telan kabut malam daerah pantai. Lalu muncul kembali di depan Nutting Cafe di Remington. Mereka melngkah masuk.
Cafe banyak dipadati anak-anak muda, entah kemana orang –orang yang lebih berumur. Suara obrolan bercampur dengan suara alunan musik dari atas stage. Suara musik didominasi petikan gitar yang jernih dan penuh energi. Mary seakan pernah mendengar suara seperti ini. Suara yang akhir-akhir ini berusaha untuk dilupakannya.
”Ada apa, Mary?” tanya Milosh saat menyadari Mary tertegun.
”Suara itu….”
”Suara apa?”
Mary mendengarkan lagi. Semakin ia berkonsen-trasi pada pendengarannya, suara itu semakin terdengar tidak asing.
”Tom…”
Mary berjalan mendekati stage hampir dengan ekspresi gembira. Milosh mencegahnya.
”Mary, Tom sudah mati….”
Mary menoleh, menatap Milosh, lalu mendesah lemah.
”Yeah…. kau benar.”
Gadis itu duduk di meja di sudut ruangan. Tidak yakin apa yang akan di lakukannya, bahkan sudah lupa akan keberadaan Milosh. Tepukan di pundak menya-darkan lamunannya.
”Hai, Mary!”
”Oh…hai, Mike!” Mike dulu adalah manager band tempat ia dan Tom bergabung. Ia bekerja sama dengan pemilik Nutting Cafe.
”Sendirian saja?”
”Tadi aku….” Mary memandang berkeliling, ”…tadi bersama Milosh. Sekarang…tidak lagi.”
”Oh, ya…kau mau kekenalkan pada gitaris baru kami?”
”Pemain gitar baru?”
”Ya, yang tadi barusan main…” Mike memandang berkeliling, ”Ah…UL, kemarilah!”
”You-el?”
”What’s up, bro!” sapa sang gitaris baru.
“Nah, Mary…ini UL. UL, ini Mary, dia temanku.”
Mary menatap gitaris baru itu dan nyaris tersedak ludahnya sendiri.
“Uriel?!!!”
“Hai, Baby….” Sapa Uriel sambil mengerlingkan mata.
“Kalian sudah saling kenal?” tanya Mike.
”Bukan hanya saling kenal..” bisik Uriel. ”Kami sudah tinggal serumah.”
”Oh.”
Mary menatap Uriel dan Mike secara bergantian, ”Apa maksudmu dengan ’Oh’?! Apa yang kau katakan padanya , Uriel?!”
”Ok, guys..aku harus kembali bekerja,” Sekali lagi Mike menepuk pundak Mary. ”Seleramu memang tidak jauh beda..”
Mary menyerngit bingung. Kemudian diam melirik Uriel.
”Kupikir kau hanya bisa jadi pengacau saja.” katanya.
”Kenapa? Jadi sekarang kau tertarik padaku?” Uriel menyeringai.
”In your dream..!!!” bantah Mary.
Petikan gitar lagu rock mulai terdengar melengking, disusul suara drum dan suara penyanyinya. Perhatian pengunjungberalih kea rah stage.
“Lagu apa ini??!!” tanya Mary yang serasa ingin menutup telinganya.
”Bagus, Steve!!” teriak Uriel yang sepertinya memberikan pujian pada salah satu temannya yang bermain gitar.
”Kau kenal lagu ini?” tanya Mary.
”Tentu saja!” kata Uriel semangat. ” Ini Starway to Heaven dari Led Zeppelin.”
“Led Zeppelin?? Rasanya aku pernah tahu…”
”Lagu ini memang keren….” Uriel idak berhenti-hentinya memuju lagu ini, seperti seorang kritikus musik yang mendengar sebuah lagu bagus untuk pertama kalinya. Berlebihan memang, tapi sepertinya Uriel agak terharu setelah mendengarnya. ”Lagu yang bagus…..” katanya lagi, ”..seperti halnya lagu-lagu Iron Maiden dan Megadeth….”
”Oh..kau suka lagu-lagu seperti itu, benar-benar rock 60-an..”
”Benar, rock… apa katamu?! Maksudmu aku sudah tua, begitu?!”
”Memang begitu kan??”
Seorang gadis menyela pertengkaran mereka dengan menyapa, ”Hai, UL!”. Ia mengenakan pakaian ketat yang minim. Uriel memperhatikannya dengan tertarik
”Hai, Sexy !”
”Jadi penggilanmu sekarang UL?” tanya Mary, ”Apa maksudnya…Uriel Low IQ”
”Uriel Looked handsome.” koreksinya.
”Astaga….kuharap aku salah dengar” celetuk Mary.

* * *

Remington Castle…..
Malam ini Lirith sendirian di kastil. Ia berada di kamarnya, membuka bungkusan panjang yang tersimpan di dasar lemari. Cahaya kemilauan memancar dari benda dalam bungkusan itu. Sebuah pedang perak. Ia menyentuhnya perlahan, nyaris terasa sama seperti saat terakhir ia menyentuhnya. Andaikan dulu dia bukan Hunter, menyentuh pedang ini saja dapat membahayakan nyawanya.
Hidupnya telah berubah total. Beberapa bulan yang lalu, Lirith masih seorang manusia , meski bukan manusia biasa, karena dia seorang Hunter, pemburu Vampire. Sekarang, dia adalah kebalikan dari dirinya dulu. Sekarang Lirith termasuk kaum abadi yang meminum darah. Ia menjadi vampire setelah merelakan darahnya untuk vampire yang dicintainya, yang telah menyelamatkan hidupnya.
”Lirith…?”
Gadis itu menoleh dengan terkejut. Raphael mendekatinya.
”Kau tidak apa-apa kan?” tanyanya. Lalu ia melihat pedang yang terletak di atas kain linen cokelat dalam sebuah kotak. Pedang itu memantulkan cahaya.
Lirith cepat-cepat menutup pedang itu lalu menguncinya dalam kotak dan menyimpannya dalam lemari. Raphael tidak boleh sedikitpun tersentuh benda itu.
”Aku baik-baik saja.”
”Apakah kau menyesal menjadi vampire?”
”Tentu saja tidak, aku bisa bersamamu sekarang.”
Raphael meraih tangan Lirith.
”Apapun yang terjadi, aku tidak akan meninggalkanmu. Aku janji.”

* * *

”Milosh….”
Milosh menoleh dan sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya. Sudah bertahun-tahun dia menunggu di pelabuhan, Sarah tidak kunjung datang, Tapi hari ini….
”Milosh, ini aku…”
”Sa…Sarah??”
”Tentu saja, Sayang. Aku Sarah yang telah lama kau tunggu.”
Milosh mundur selangkah, lalu ia tertawa kecil sambil mengusap rambutnya dengan agak salah tingkah.
”Kau bukan Sarah. Aku tahu itu. Sudahlah, Mary…jangan bercanda seperti itu.”
”Mary?? Aku bukan Mary. Aku Sarah, Milosh.”
”Aku tidak bodoh, Mary….. Kau pikir aku seperti Uriel. Sudahlah, kau mau kutemani ke Nutting Cafe? Ayolah kalau begitu!”
Milosh berjalan pergi tanpa menyadari wanita itu sama sekali tidak ingin ke Nutting Cafe.

Nutting Cafe…..
Milosh sekarang terkejut untuk kedua kalinya. Ia melihat Mary sedang duduk di meja bar yang kosong dan berbicara dengan Lirith.
”Mary, sejak kapan kau di sini? Kau sampai lebih dulu dariku?”
”Apa maksudmu? Sejak tadi aku di sini, karena aku lagi malas bekerja di laboratorium. Kau dari mana? Pelabuhan ?”
Milosh mengerutkan kening.
”Bukankah tadi kau juga ada di sana? Menyamar sebagai Sarah dan mencoba membodohi aku?”
”Hey..hey…apa sih maksudmu? Dari tadi aku di sini. Ya kan, Lirith?”
”Benar, Milosh….sejak tadi dia ada di sini bersamaku, kami bahkan berangkat bersama dari kastil.”
Milosh tiba-tiba merasa linglung. Ia merasa kepalanya penuh dan ia pun berjalan pergi. Mary memanggilnya, tetapi Milosh sudah lenyap dari pandangan.
Bersamaan dengan itu semua pengunjung cafe bersorak dan dalam sekejap suasana menjadi gaduh. Semua orang mulai meneriakkan nama UL, terutama wanita.
Mary meringis, ”Cepat sekali dia naik daun….” Ia melirik Lirith yang balik melirik ke arahnya. Lalu mereka berdua mulai mendengarkan suara petikan gitar, yang terdengar lebih lembut daripada biasanya. Mary terkejut saat menyadari lagu yang dimainkan Uriel adalah lagu ciptaan Tom yang dulu sering dimainkannya untuk Mary. Mike pasti memberitahukan lagu itu pada Uriel, karena Mike suka dan tahu benar lagu itu.
”Sialan! Kenapa si brengsek itu jadi mirip Tom sekarang!” umpat Mary. Dengan kesal ia berjalan meninggalkan Cafe.

Kini Milosh berada di tepi laut. Kepalanya terasa berputar-putar. Seakan-akan dia merasa sudah benar-benar gila. Gila karena Sarah yang menghantuinya dengan begitu nyata. Ia berteriak sekeras-kerasnya….suaranya tertelan suara ombak dan kegelapan. Napasnya tersengal-sengal, kemudian ia terduduk di atas batu karang yang basah. Merasa begitu tolol dan merana.
”Sarah….apa benar itu kau?” tanyanya pelan pada udara yang bergerak.
”Ya, Milosh. ini aku. ”
Milosh menoleh dengan terkejut. Ia mendapati sosok Sarah berdiri di belakangnya.
”Kau….. nyatakah kau? Atau hanya halusinasi dalam kepalaku yang hampir tak waras ini?”
Wanita itu duduk di depan Milosh, lalu meraih tangannya.
”Aku nyata, Milosh. Lihat…” katanya sambil membimbing tangan Milosh untuk menyentuh pipinya. ”Aku tahu kau sudah lama menungguku. Sekarang aku sudah datang,”
”Tapi…bagaimana mungkin…”
”Sshh….” potong Sarah sambil menempelkan telunjuknya di bibir Milosh. ”Aku kembali untukmu.”
”Tapi….”
”Ada apa?”
”Aku bukan lagi manusia. Aku…”
”Ya..ya…aku tahu itu, Milosh. Kau seorang vampire, aku tahu. Itu bukan masalah lagi sekarang.”

* * *

Remington Castle…..

Mary terus saja memukul-mukul kepalanya, ”Bodoh..bodoh!!!” umpatnya untuk kesekian kali. “Tom sudah mati, Mary….yang kau lihat tadi bukan Tom…tapi si idiot Uriel…”
”Aku dengar namaku di sebut-sebut.” Uriel muncul tiba-tiba, ”Kau sebut apa sebelum namaku tadi?”
”Idiot!” seru Mary.
”Tunggu…tunggu, Mary….Apa sih salahku sampai kau menyebutku seperti itu?”
”Karena aku tidak suka padamu!”
”Oh..oh…sabar dong. Apa aku begitu mirip pacarmu yang sudah mati itu?”
”Dengar, kalau kau bicara seperti itu lagi, aku akan membunuhmu!”
Uriel melihat Mary dari atas ke bawah, ”Kau ini kenapa sih?”
Mary menarik napas.
”Boleh tidak aku meminta sesuatu padamu?”
Uriel mengangkat bahu.
”Pergilah dari sini! Keluarlah sekarang juga dan jangan ganggu aku lagi!” ujar Mary datar.
Uriel terdiam.
”Aku serius. Keluarlah, kumohon…”
”Okay..okay….aku pergi.”

”Ibu?” tanya Angelique saat wanita itu, ibunya, menyentuh wajahnya.
”Ibu rindu sekali padamu, Sayang. Tidakkah kau ingin pulang?” ujar wanita itu.
”Aku…aku takut pulang, Bu…aku takut tidak bisa melepaskannya lagi….”
”Pulanglah, Sayang….”
Wanita itu menjadi kabur, seperti gambar dari televisi pada cuaca buruk. Lama kelamaan seolah menjauh, kabur dan kecil dan akhirnya menhilang.
”Ibu….tunggu, Bu!!!”
Angelique membuka matanya. Keringat mengucur deras dikeningnya. Ia segera membuka peti matinya dan menarik napas. Sayup-sayup terdengar percakapan dari ruangan lain. Nada yang terdengar seperti meng-gambarkan keterkejutan.
”Apa yang terjadi?” tanyanya ketika sampai di lobi kastil, semua teman-temannya ada di sana. ”Apa aku melewatkan sesuatu?”
”Tidak terlalu, Angelique…” sahut Lirith.
”Angelique…” ujar Milosh, ”…ini Sarah. Sarah Lake yang sudah lama kutunggu. Dia akan tinggal di sini?”
Sarah tersenyum.
Angelique tidak menyahut. Ia melihat teman-temannya yang lain, memandang padanya, seolah menanti kata-kata yang akan diucapkannya.
”Aku…sudah memberitahukan hal ini pada Claudius.” tambah Milosh setelah beberapa saat Angelique tidak memberikan reaksi apa-apa.
”Kau memang genius, Bung!” Uriel menepuk pundak Milosh. ”Tidak salah Claudius menyuruhku tinggal di sini. Setidaknya aku dikelilingi wanita-wanita cantik.”
”Kalau kau berani sedikit saja mendekati Sarah, aku tidak akan memaafkanmu.” ujar Milosh.
Mary menatap Sarah dengan pandangan campuran antara terkejut, tidak percaya dan ingin tahu.

 

to be continue….

Published in: on November 26, 2009 at 6:14 pm  Comments (1)  
Tags:

HIGHWAY SPEED AND MOON LIGHT

Remington, awal musim panas…..
Seorang gadis kecil tengah berusaha mengha-nyutkan kapal-kapal kertas ke tengah sungai. Di atas kapal-kapal itu berdiri lilin-lilin kecil yang bersinar redup. Nyalanya berpendar di di bawah lampu jalan yang mulai rusak.
”Dad….kapalnya tidak mau ke tengah…” rengeknya pada sang ayah yang setia menemani.
”Air sungai sangat tenang, Sayang…..Tidak ada arus yang membawanya…”
”Ayo, Dad…carikan aku arusnya!”
”Lilian…..jangan nakal!”
”Dad….” Gadis merengut dan matanya sudah berkaca-kaca. Ia mengusap matanya lalu memandang kapalnya dengan kecewa. Mungkin karena melihat dengan mata basah, ia seolah melihat kapal kertas itu bergerak perlahan-lahan.
”Dad, lihat! Kapalnya bergerak!”
Empat buah kapal itu mulai mengarungi air sungai menuju ke tengah, dengan sangat perlahan. Cahaya lilin yang semula sangat redup tampak lebih jelas ketika berada di tengah-tengah sungai. Nyala api yang bergoyang pelan terpantul oleh air sungai, mengandakan jumlahnya.
Gadis itu meloncat kegirangan. Kemudian ia menatap bintang yang terapung itu dengan berseri-seri. Entah kenapa si gadis kecil merasa bahwa mereka tidak sendirian. Dan mereka memang tidak sendirian.
Seorang pemuda duduk di pembatas jalan, ikut melihat kapal-kapal kertasnya yang membawa cahaya.Orang itu menoleh padanya dan tersenyum. Lilian membalas senyumnya. Orang itu membawa sesuatu yang mirip buku gambar. Lilian menatapnya dengan penuh minat. Kemudian orang itu merobek satu halaman dan menyodorkan padanya.
Gadis kecil ragu-ragu untuk mendekat. Ia menatap lagi pemuda asing itu. Kelihatannya dia orang baik, maka Lilian mendekat dan mengambil kertas itu dari tangannya. Ternyata isinya adalah gambar dia dan ayahnya yang terbuat dari goresan pensil. Hanya saja gambar itu seperti terbalik dan agak samar, seperti pantulan pada air sungai. Ada sebuah inisial yang tertulis di sudut halaman.
R.B
“Terima…..” gadis itu terkejut, karena orang itu entah bagaimana telah pergi meninggalkannya saat dia tengah mengamati gambar tersebut.

Pemuda itu menyusuri jalan dalam diam. Langkahnya hampir tidak terdengar, meskipun ia memilih jalan yang cukup lengang. Sepertinya ia juga menghindari berjalan di bawah cahaya yang terlalu terang, bahkan cenderung memilih kegelapan.
“Raphael?” Ia mendengar suara seorang gadis, sangat dekat, seolah berada dalam kepalanya sendiri.
“Ya.” Jawabnya, meskipun dia terlihat sama sekali tidak menggerakkan bibir.
“Mau ke mana?”
“Rumah sakit, mengambil makanan. Sudah mau pulang?”
“Ya, sebentar lagi.”
“Tunggu saja di situ! Setelah pulang dari rumah sakit aku akan ke tempatmu.”
“Baiklah. Hati-hati !”
Raphael tersenyum.
“Hei….jangan tersenyum!”kata suara itu. ”Orang bisa menganggapmu gila…..kau senyum-senyum sendiri.”
Raphael memang hanya sendirian, karena gadis yang berbicara dengannya jauh berada di Nutting Cafe, tiga blok dari tempat dia berada sekarang.
Kemudian terdengar tawa pelan.
“Lirith, seharusnya kau juga dilarang tertawa…”kata Raphael.

* * *
Remington Castle…….
Sebuah ruangan di lantai pertama diterangi cahaya yang lebih terang daripada ruangan-ruangan lain di lantai yang sama. Jendela sempit dan tinggi tertutup tirai berwarna merah tua kecoklatan. Rak-rak buku berdiri sepanjang dinding batu yang dilapisi panel kayu. Sebuah lemari kayu bersandar di dinding di samping jendela. Lemari itu sedikit terbuka, menunjukkan isinya yang kebanyakan juga buku-buku, tetapi kelihatan lebih seperti buku catatan daripada buku lain dalam ruangan itu. Sebuah meja kerja yang antik berada memunggungi jendela. Diatasnya tedapat beberapa buku dan kertas-kertas yang bertumpuk di sudut. Terdapat pula sebuah buku besar yang terbuka di tengah-tengah meja.
Seorang gadis cantik menelusurinya dengan jarinya yang panjang, lentik dan pucat. Rambutnya yang hitam panjang tergerai menutupi bahunya yang terbuka. Ia mengenakan pakaian hitam tanpa lengan yang menempel erat di tubuhnya. Ia melipat kakinya dengan luwes, menampilkan paha mulus yang hanya tertutupi sebagian oleh busananya. Kakinya yang mengenakan sepatu boot stylish mengetuk-ngetuk kaki meja.
Angelique Blanchard mengeluh.
“Ini benar-benar menyia-nyiakan hidupku yang abadi.”keluhnya. “Keterlaluan…..seharusnya aku keluar dan bersenang-senang, bukannya mengurusi barang-barang yang lebih tua dariku seperti ini…..aku akan membunuh Claudius…..”
“Benarkah?”
Angelique mendongak.
Seorang pria muncul. Ia mengenakan pakaian serba hitam, mulai sepatu, celana, kemeja hingga jas panjangnya yang menyerupai mantel. Rambutnya yang pendek dan matanya yang tajam sekilas memberikan kesan menakutkan. Tapi kemudian dia tersenyum.
“Claudius? Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Angelique.
”Aku ingin bicara denganmu.”
Angelique tersenyum. Ia berdiri, menghampiri Claudius lalu melingkarkan kedua lengannya di leher pria itu. Angelique tersenyum lagi, kali ini lebih menggoda.
“Mm…..kau rindu padaku, Darling?”
“Sayangnya aku ke sini bukan karena alasan itu. Aku ingin meminta bantuanmu.”
Angelique melepaskan tangannya.
“Apalagi sekarang……” katanya dengan nada yang berubah dari manja menjadi kesal. ”…kau sudah membuatku tidak dapat satu lelaki pun hari in. Aku bisa stress!”
”Sudah kuduga….”

Laboratorium kastil……
Dinding laboratorium terbuat dari batu abu-abu tanpa pelapis. Berbeda dari ruangan yang lain, di sini terdapat banyak jendela yang lebar dan tinggi. Bahkan salah satu sisi dindingnya terdiri dari jendela-jendela berdaun ganda. Di bawah jendela itu tidak terdapat apa-apa, tidak seperti sudut di ruangan lain. Ketiga dinding yang lain ditutupi rak tinggi berisi alat-alat serta wadah plastik ataupun kaca yang bertuliskan nama bahan yang tersimpan di dalamnya. Di tengah ruangan ada sebuah meja panjang. Di atasnya di penuhi rangkaian alat destilasi, mikroskop serta tabung-tabung dengan berbagai ukuran. Dekat pintu tedapat meja lain yang lebih kecil di mana beberapa buku berserakan diatasnya.
Mary memutar fokus mikroskop dan dengan serius mengamati preparat di bawah lensa. Rambutnya yang hitam sebahu diikat apa adanya untuk memudahkannya bekerja. Ia mengangkat wajahnya dari lensa okuler, membetulkan letak kaca matanya, sebelum beralih ke buku catatan di samping mikroskop. Ia menuliskan sesuatu, lalu menatap catatannya sejenak dan mengerutkan kening.
”Ada masalah, Mary?”
”Oh, shit!!”seru Mary terkejut. “Milosh, jangan mengejutkanku! Sejak kapan kau di sini?”
”Sejak tadi.”
Seorang pria duduk di meja kecil di samping pintu. Rambutnya sedikit berantakan dan ekspresinya sedikit aneh, seolah ada sesuatu yang lama dipikirkan dan dinantikannya. Namun hal itu tidak menutupi posturnya yang gagah.
Mary menghela napas. Ia kembali menekuni pekerjaannya semula. Tapi ia tahu bahwa Milosh masih memperhatikannya.
”Lakukanlah hal yang lain, Milosh!” kata Mary datar, tanpa melepaskan pandangannya dari lensa mikroskop.
”Aku suka melakukan ini, melihatmu bekerja.”
”Terserah kau.”
Mary menyimpan preparatnya, melepaskan kaca matanya dan menanggalkan jas laboratoriumnya, lalu beranjak ke ruang tengah.
Ruang tengah sangat lebar, berlangit-langit tinggi dan dinding berlapis panel kayu. Ruangan itu terletak di lantai dua, dengan dua jendela di dua sisi dinding. Ada perapian besar yang jarang di gunakan, di atasnya terdapat jam meja kuno yang masih dapat menunjukkan waktu. Sepasang lampu dinding menempel di sebelah kanan dan kiri perapian.

 

Sementara itu di tengah ruangan terdapat meja dan kursi-kursi berlengan yang empuk. Di ruangan yanng sama juga terdapat meja besar dengan sepuluh kursi yang di atur menyerupai ruang makan.
”Orang tua primitif!” seru Mary saat melihat Claudius di ruang tengah.
”Benar-benar tidak sopan.” gerutu Claudius.
”Jangan berharap aku akan memanggilmu Yang Mulia.”
Claudius tersenyum.
Kemudian Raphael masuk dengan membawa sebuah tas. Ia bersama seorang gadis berambut merah.
”Claudius?” katanya.
”Halo, Raphael……dan juga Lirith!” sapa Claudius. ”Semua baik-baik saja kan? Dan kulihat kaulah yang harus mengambil darah di rumah sakit sekarang.”
”Berharap Angelique yang melakukannya?” tanya Raphael.
”Hah….di sana tidak ada dokter yang menarik.”komentar Angelique.
”Hei, Claudius!”sapa Milosh.”Meninggalkan Underworld? Ada apa gerangan?”
”Yah..tadinya aku ingin menitipkan seseorang pada Angelique. Tapi sepertinya dia sudah kabur duluan.”
Semua orang saling berpandangan.

* * *

Remington Castle hanya terlihat seperti museum kuno pada umumnya. Namun tidak banyak yang mengetahui bahwa kasti terpencil di atas bukit, di atas kota Remington itu adalah tempat tinggal kaum abadi. Remington Castle adalah rumah bagi beberapa vampire.
Malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, kastil tampak sunyi senyap. Hanya nyala redup dari ruangan di lantai atas yang menandakan bahwa kastil itu masih dihuni. Sementara di luarnya, yang terdengar hanya bunyi serangga malam yang mulai keluar dari persembunyiannya. Lampu-lampu halaman pun terlihat redup dan tidak mampu mengatasi kesunyian yang ada.
Tetapi di salah satu ruangnya yang membelakangi kota, di ruangan yang cukup luas, beberapa vampire tengah duduk di kursi berlengan yang nyaman. Beberapa di antaranya terlihat masih muda dan agak tidak terkendali. Di depan deretan kursi berlengan yang berjajar itu, terdapat sepasang meja dan kursi antik serta sebuah layar proyektor.
Pada malam-malam tertentu, beberapa vampire menghadiri pertemuan yang mereka sebut sebagai kelas. Vampire yang hadir di sini pada umumnya adalah vampire baru yang berada di sekitar kota Remington. Mereka mengikuti pelajaran yang diharapkan dapat membuat mereka menjadi lebih manusiawi.
Mary dan Lirith termasuk dalam kelompok ini.
Viktor Paole, pengajar mereka yang baru, pengganti Claudius Darling berdiri di depan kelas. Dia tampak seperti orang dalam foto kuno yang hitam putih. Potongan rambutnya tampaknya dari tahun 80-an. Pakaiannya tampak terlalu kolot untuk jaman sekarang, sekalipun ia mengenakan jas. Caranya berbicara seolah dia tengah berbicara pada suatu rapat yang diadakan pejabat tinggi kerajaan di mana dia adalah salah satu dari pejabat itu. Cara bicaranya yang seperti inilah yang membuat murid-muridnya bosan.
”……..dan karya satra gothic ini banyak ditulis oleh seorang manusia berkebangsaan Inggris bernama Ferdinand Lake. Dia adalah …..”
”……orang yang kurang kerjaan”
Semua orang menoleh ke arah pintu, dimana seorang pemuda bersandar di ambang pintu. Ia terlihat seperti anak muda jaman sekarang yang suka membuat keonaran dan acuh tak acuh. Celana jeans, sepatu kets, kaos dirangkap kemeja kotak-kotak dan jaket kulit dengan kerah berdiri.
Mata hijaunya menatap Viktor jahil dan bibirnya menyunggingkan senyum menyebalkan.
”Hai, Vicky!” sapanya.
”Viktor.” koreksi sang guru. ”Duduk, Uriel. Kau terlambat.”
Pemuda itu mengusap rambut pendeknya yang pirang kecoklatan dengan tidak bersemangat dan kesal, lalu beranjak duduk di sebelah Lirith.
”Hai!” sapanya. ”Boleh tahu namamu, Sweety?”
Lirith mengkerutkan kening.
”Lirith.” jawabnya.
”Lirith? Oh, ya…. Lirith Saint-Clair. Ex-Hunter… kau memang revolusioner.”
Lirith tidak tahu harus berkata apa pada orang ini. Ia hanya menoleh pada Mary yang ada di sebelahnya. Dan mereka berdua mengangkat bahu.
”Hei, Baby….sepertinya kita pernah bertemu.” kata orang itu pada Mary.
”Aku tidak bodoh!” sentak Mary.
Orang itu tertawa.
”Buku science dan pemarah…kau pasti Mary Black.”
Mary menatap orang itu dengan heran.
”Dari mana kau tahu?”
”Mm…..kau terkenal kok, Baby.”
”Uriel!!” seru Viktor.
”Ya, Vicky….”
Beberapa vampire lain yang hadir tertawa, terlebih para gadis. Uriel memang lumayan keren ditambah gayanya yang tidak peduli.
Viktor menghampiri Uriel.
”Jangan kau pikir karena kau masih sepupu dengan Yang Mulia Borreas of Austria…..”
”Aku lebih suka memanggilnya Claudius.” potong Uriel. ” Dan aku tidak berpikir seperti yang kau pikirkan.”
Viktor menghela napas.
”Baiklah, saudara-saudara…..Ini adalah Uriel le Bousier, dia akan bergabung dengan kita….”
”Padahal aku bukan lagi vampire muda…” gerutu Uriel.
Beberapa vampire tampak bergumam.
”Sepupu Yang Mulia?”
”Uriel le Bousier…oh, Master of the Highway…”
Uriel tersenyum saja mendengar kata-kata orang di sekelilingnya.
”Ternyata aku terkenal juga.” komentarnya. ”Ya kan, Mary?”
Mary mendengus.
Setelah kelas berakhir, Mary segera keluar bersama Lirith. Ia ingin meneruskan penelitiannya.
”Jadi apa penemuan terbarumu, Bloody Mary?” tanya Uriel.
Mary menoleh.
”Percuma, kau tidak akan mengerti.” jawab Mary.
”Oh, ya?”
”Terlihat dari wajahmu.”
”Kenapa? Karena kau tampan?”
”Bukan. Wajahmu terlihat bodoh!” sentak Mary. ”Ayo, Lirith!”
”Dasar sok cerdas….” gumam Uriel.
Mary terus saja menggerutu saat ia kembali ke laboratorium.
”Aku tidak percaya, Claudius menitipkan orang itu pada kita.”
”Sudahlah, Mary…” kata Lirith. ”Dia hanya cari perhatian.”
”Salah satu ciri orang bodoh. Aku merasakan firasat buruk dengan orang itu.”
Lirith tertawa.
Sebenarnya firasat Mary tidak sepenuhnya salah. Paling tidak hari pertama Uriel ada dikastil telah membuat semua penghuninya kesal. Ia bahkan menggoda Lirith di depan Raphael. Meskipun ia tidak marah, tapi menyuruh Lirith tidak menanggapinya saja pertanda Raphael tidak senang. Uriel juga seenaknya menyalakan mesin motornya dan memutar lagu heavy metal keras-keras.
”Woo…jadi inilah guamu, Mary?” katanya saat memasuki laboratorium.
Uriel berkeliling di sekitar meja kerja Mary. Mendentingkan gelas kimia dengan tabun reaksi. Mengetuk-ngetuk labu destilasi dengan jarinya, seolah berharap uap di dalamnya bisa menari.
Mary melirik tingkah orang itu.
Ketika Uriel menyentuh tombol pengatur suhu pemanas destilasi dan hendak menaikkan suhunya, Mary segera menampar tangannya.
”Apa sih yang ada di otakmu?!”seru Mary. ”Ini laboratoriumku, jangan menyentuh apapun! Kalau perlu jangan masuk sekalian!”
”Ho..ho…tidak perlu marah dong…”
”Kau dengar katanya, kan…” potong Milosh.
Uriel menoleh.
”Jangan mengganggu pekerjaan Mary!” ujar Milosh lagi. Uriel tersenyum.
”Baiklah, Dad….” ujarnya dengan penekanan pada kata ’Dad’. Ia pun keluar dari laboratorium dan berpapasan dengan Angelique.
Uriel bersiul jahil.
”Hei, Sexy !” sapanya.
”Hei, Little Kid!” jawab Angelique. Uriel mengernyit.
”Apa?”
”Jangan bersikap sok dewasa denganku. Kau sama seperti kebanyakan cowok yang lain, terlambat untuk dewasa. Untukmu mungkin tidak akan pernah dewasa sama sekali.” Angelique meninggalkan Uriel yang tampak bersungut-sungut.
Mary tertawa puas.

Malam ini bulan bersinar terang. Cahayanya yang pucat menerobos jendela Remington Castle. Sementara di luarnya binatang-binatang malam seolah protes pada sang rembulan yang membuat matanya silau. Tidak ada suara apapun yang terdengar selain suara burung hantu yang samar-samar di hutan kecil di sisi kiri bukit.
Angelique sedang berada di ruang kerja. Mary membaca di ruang tengah bersama Lirith yang sedang bersiap-siap pergi ke Nutting Cafe. Raphael sedang berada di museum memeriksa lukisan-lukisan karena Angelique tidak mau melakukannya. Milosh sedang berada dikamarnya.
Tiba-tiba terdengar erangan yang memekakkan telinga dan menghancurkan kesunyian yang ada.
”Ada apa ini?!” seru Mary.
Lirith melihat sesosok makhluk besar berbulu meloncat keluar dari kastil.
”Mary, Milosh kabur!” serunya.
”Astaga! Sekarang bulan purnama, aku lupa….. Angelique, Milosh kabur!!”
Milosh sudah berada di halaman. Ia melolong panjang, lalu menggeram dan beranjak menuruni bukit menuju hutan. Angelique berlari mengejarnya, menarik tangannya lalu menghantamkan tubuh manusia serigala Milosh ke dinding kastil. Cukup untuk menarik perhatian makhluk itu.
”Bodoh! Mau ke mana kau?!”
Milosh menggeram lagi, lalu mulai melolong-lolong.
”Halo….” ujar Uriel yang melongok lewat jendela. ”Apa aku tidak bisa mendapat ketenangan di sini?”
Mary memutar bola matanya.
”Si dungu itu….”
Milosh terus melolong.
” Angelique…..” ujar Lirith. ”Aku mendengar ada suara lolongan lain. Di dalam hutan….”
Mereka mulai mendengar ada suara lolongan lemah di antara pepohonan.
”Sepertinya Milosh bukannya ingin kabur.” kata Mary.
”Dia mendengar suara cewek tuh” celetuk Uriel.
Angelique beranjak ke depan Milosh, lalu berdiri berhadapan dengan manusia serigala itu. Milosh menggeram pelan, seolah bicara dengan Angelique.
”Baiklah, aku mengijinkanmu ke dalam hutan,”kata Angelique ”….tapi aku ikut denganmu. Mengerti?”
Milosh menggeram lagi.
”Uriel, kau ikut denganku! Raphael, kau jaga Mary dan Lirith!”
”Hei..seharusnya aku yang bersama gadis-gadis…” protes Uriel, tapi Angelique tidak peduli.

Makhluk itu seperti Milosh, hanya saja lebih ramping. Kaki kirinya berdarah, lengannya tampak menghitam dan ada bekas-bekas memar serta darah di sekujur tubuhnya. Mary dengan bantuan Angelique memberikan obat penenang agar Lirith lebih mudah mengobati luka-lukanya. Sedangkan di kamar lain, Raphael dan Uriel berusaha menangkan Milosh. Malam ini Milosh belum mendapatkan obat untuk mengendalikan naluri serigalanya.
Sekalipun Milosh bukan manusia serigala yang liar, tampaknya ia tidak begitu suka di suruh diam saja di kastil dan tidak berkeliaran di luar. Ia juga kelihatannya tidak begitu suka didekati Uriel.
”Shit!!” seru Uriel ketika Milosh menggeram dan hampir mencakarnya. ”Makhluk idiot!” makinya.
Milosh menggeram lebih keras dan hampir saja menangkap kepala Uriel, jika saja dia tidak dengan tiba-tiba terhenyak dan menempel di dinding. Makhluk itu berusaha keras untuk meraih Uriel, namun usahanya sia-sia.
”Kau apakan dia?” tanya Uriel yang mengamati tubuh Milosh yang menempel di dinding.
”Mencegahnya mencakarmu lagi.” jawab Raphael sambil membuka botol kecil dan mengambil cairan di dalamnya dengan alat injeksi.
”Oh, ya…..Claudius bilang kau telekinetik.” ujar Uriel, lalu mengamati Raphael menyedot cairan kekuningan itu. ”Itu apa sih?”
”Semacam obat penenang untuk werewolf. Mary yang membuatnya.”
”Dia??” tanya Uriel seolah tidak percaya.
”Dia bisa saja meracunimu.” kata Raphael sambil meletakkan alat suntik di telapak tangannya. Kemudian benda itu melayang dan meluncur ke arah Milosh, menusuk lengannya.
Milosh menggeram lalu perlahan dia roboh dan seolah tertidur.
”Cool…..” komentar Uriel.
”Menurutmu, kenapa dia terluka?” tanya Mary pada Angelique setelah mereka kembali ke ruang tengah.
”Entahlah. Pikiran werewolf lebih sulit untuk dibaca.”
”Lengannya hampir patah.” kata Lirith. ”Kupikir werewolf sangat kuat.”
”Apapun yang menyerangnya pasti lebih kuat dari werewolf.”
”Bagaimana kabar cewek serigala itu?” tanya Uriel.
”Darimana kau tahu dia perempuan?”
”Itu keahlianku.”
Mary mendengus.
Karena pertimbangan ada dua werewolf di kastil, Angelique mengurungkan niatnya untuk keluar bersenang-senang. Akibatnya sepanjang malam ini, justru dialah yang terus – terusan mengamuk.

* * *

Gadis itu berambut pirang dan ikal. Dia cantik dan matanya tajam. Ia masih berjalan dengan terpincang-pincang dan salah satu lengannya pun masih di gendong.
”Terima kasih sudah menolongku.” katanya pada Milosh.
”Aku hanya mendengar panggilanmu. Teman-temanku yang menolongmu. Ayo kuperkenalkan pada mereka!”
Mereka menuju ke ruang tengah, dimana yang lain sedang berkumpul.
”Teman-teman, ini Livana Rendall.”
”Halo!” sapa gadis itu.
”Aku Uriel, sayang” kata Uriel. Livana tersenyum datar.
”Ini Mary, yang mengobatimu.” ujar Milosh.”dan juga Lirith.”
Livana tersenyum pada Lirith.
”Saint-Clair, bukan?” tanyanya. ”Kau terkenal.” Gadis itu melirik Raphael, lalu tersenyum manis. ”Kalau begitu, kau lah Raphael Blanchard.”
Raphael mengangguk.
”Orang pertama yang meminum darah Hunter” ujar Livana tanpa tahu Raphael tidak suka hal itu di ungkit-ungkit.
”Dan itu…”sambung Milosh, ” Angelique.”
Livana manatap Angelique cukup lama.
”Jangan katakan kau Angelique Blanchard.”
”Ada masalah?” tanya Angelique.
”Jadi kaulah orangnya……” ujar Livana menatap Angelique dari atas ke bawah. ”penakluk para pria.”
”Yah…kurasa kau benar.”

Nutting Cafe….
Lirith membersihkan meja tamu. Hari ini cafe sangat ramai, pengunjung datang dan pergi. Ia dan teman kerjanya , yang jelas tidak tahu siapa Lirith sekarang ini, cukup kerepotan. Mereka pontang-panting menyiapkan pesanan dan mengantarnya ke meja tamu.
”Wah…capek..” keluh Jane, teman kerja Lirith yang baru.
”Hei, girls..ada cewek cantik nggak?” celetuk Pete, rekan kerja yang lain. ”wah..itu dia!” serunya saat melihat seorang gadis masuk. ”Sexy…..”
Lirith melirik gadis yang dimaksud Pete.
”Jangan macam-macam, Pete!” kata Lirith. Gadis yang baru datang itu adalah Angelique.
”Kenapa?”
”Kita sedang bekerja kan?”
”Bos pasti marah.”tambah Jane.
Tak lama kemudian terdengar suara menggelegar yang menyuruh mereka untuk kembali bekerja dan bukannya ngobrol.
Angelique duduk dan minum sendirian. Sebanyak apapun dia minum, tentu saja tidak memberikan pengaruh apa-apa padanya. Ia bahkan tidak merasakan rasa minuman yang baru saja diminumnya.
”Sendirian, Sayang?” tanya seorang pria.
”Mau menemani?”
”Tentu saja.”
Pria itu duduk merapat pada Angelique, satu tangannya di atas paha gadis itu, sedang tangan yang lain melingkari pinggangnya.
”Siapa namamu, Sayang?”
” Angelique.”
” Angelique….kau tidak ingin tahu siapa namaku?”
”Itu tidak penting.”
”Gadis nakal….”
Pria itu mengecup bahu Angelique , lalu lehernya dan pipinya. Angelique memeluk tubuh pria itu, kemudian mereka berciuman seru.
”Kita perlu kamar, Sayangku..”
”Tentu saja.”
Tiba-tiba sepasang tangan lentik menyentuh paha pria itu.
”Hai, Jagoan..”
Pria itu menoleh. Seorang gadis pirang duduk di sebelahnya. Ia membelai wajah pria itu.
”Hai, manis…”
Si pria tampaknya sangat senang berada di antara kedua gadis itu. Ia memeluk merka berdua. Namun, Angelique menepis tangannya, lalu beranjak meninggalkan mereka.
Ia menemui Lirith dan meminta segelas bir. Lirith memberikannya sambil menahan senyum.
”Jangan menertawakan aku!” ujar Angelique, ”Sebenarnya apa maksud Livana itu?!”
”Sudahlah, masih banyak yang lain kan.”
”Hh..aku sudah kehilangan selera.”
Lirith tersenyum.

Remington Castle….
”Jadi apakah kau suka tinggal di sini?” tanya Claudius pada Uriel.
”Mm…lumayan.”
”Benarkah? Padahal aku sudah membayangkan kau akan kabur dari sini dalam dua hari mendatang.”
”Tenang saja, aku tidak akan melakukannnya.”
Claudius mengangkat alis.
”Aku akan mengusirnya!!” seru Angelique. Spontan Claudius dan Uriel menoleh.
”Hei..apa salahku?!” tanya Uriel.
”Bukan kau! Tapi wanita penggoda itu!”
Uriel tertawa, menurutnya Angelique seakan-akan hendak mengusir diri sendiri. Bukannya dia juga penggoda?
”Sudah tidak jelas asal usulnya! Tahu-tahu datang terluka. Tidak tahu terima kasih.”
”Apakah aku yang kalian bicarakan?” Livana muncul. ”Selamat malam, Yang Mulia.” katanya pada Claudius.
”Ehem!” potong Angelique. ”Kulihat kau sudah sembuh. Tidak ada alasan lagi untuk tinggal di sini, bukan?”
”Kenapa?”
”Karena aku bukan orang baik hati yang mau menampung orang tersesat.”
Livana tersenyum.
”Tapi kastil ini bukan milikmu, bukan?”
Angelique menggeram, ia memandang Claudius minta persetujuan.
”Selama ini di mana kau tinggal?” tanya Claudius.
”Aku berpindah-pindah, mengelana sendiri.” jawab Livana. ”Aku mulai bosan sendirian.”
Claudius mengangguk tanda mengerti.
”Hei…hei…Claudius,” potong Angelique. ”Apa maksud anggukanmu tadi?”
”Ayolah, Angelique….dulu kau juga berkelana bersama Raphael. Kau tahu ada saatnya kita berhenti.”
”Damn!!” umpat Angelique.
”Terima kasih, Yang Mulia.” kata Livana, kemudian ia beralih pada Angelique. ”Dan Angelique, lelaki tadi lumayan juga.”
”seharusnya dia milikku!”
Livana tersenyum.
”Tapi dia memilihku, Angelique sayang….”
Angelique mendengus saat Livana pergi meninggalkan mereka.
”Apa maksudmu, Claudius?!” protesnya.
”Meskipun dia boleh tinggal di sini, bukan berarti kau tidak mengawasinya, bukan? Apa kau melihat ada yang aneh dengannya.”
”Tidak.” jawab Angelique. ”Mengherankan….padahal aku berharap mengetahui bahwa dia adalah orang jahat, agar aku punya alasan untuk membunuhnya.”
”Kuharap merebut mangsamu bukan masuk kriteria orang jahat.”
Angelique menghela napas.
”Dasar wanita serigala….” gerutu Angelique sebelum meninggalkan ruangan.
Uriel yang dari tadi hanya menjadi penonton, bersiul nyaring. Ia menatap kepergian Angelique sambil berdecak kagum.
”Mereka memang menakjubkan.” ujarnya. ”Cantik, sexy, kuat, menggairahkan….”
”Jangan katakan kau mau tinggal di sini karena ada mereka berdua.” kata Claudius.
”Oh…tentu saja tidak.”
Uriel tersenyum jahil.
”ngomong-ngomong, Uriel….kemarin Viktor mengatakan padaku…..”
”Ah..si Vicky itu, dasar pengadu! Apa lagi sekarang???”
”Uriel!!”

to be continue…..

Published in: on November 26, 2009 at 6:05 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags:

PROLOG ~ Undead’s Bloodline

Selama berabad-abad, kebanyakan teror vampire ditemui di Eropa bagian timur. Di Inggris, cerita vampire baru dikenal pada awal abad ke-18. Pada kenyataannya, cerita vampire itu sampai di Inggris pada tahun 1732 berkat sebuah laporan terjemahan dari bahasa Jerman tentang pembunuhan vampire yang dilakukan oleh Arnold Paole di Serbia. Serangan-serangan vampire merebak di Prussia timur sekitar 1721 dan di daerah sekitar kerajaan Austria-Hungaria pada tahun 1725-1734.

Pemberitaan mengenai vampire yang terkenal adalah kematian Peter Polojowitz pada usinya yang ke-62. Beberapa hari setelah kematiannya, Polojowitz muncul kembali dan meminta makanan kepada anaknya. Sang anak menolak, kemudian ia ditemukan tewas beberapa hari berselang, karena kehabisan darah.

Kisah yang lebih terkenal adalah kisah Arnold Paole, yang beberapa tahun sebelumnya, menyatakan bertemu dengan vampire. Paole adalah mantan tentara yang beralih menjadi petani, ia di temukan mati saat sedang berada di ladangnya. Setelah kematiannya, orang-orang mulai meninggal satu persatu. Diyakini bahwa Paole bangkit kembali dan menghantui lingkungan sekitarnya.

Kontroversi keberadaan vampire kian merebak. Di daerah pedesaan, keyakinan ini berlangsung turun temurun. Penduduk desa melakukan penggalian kembali kuburan untuk mengetahui apakah jasad yang dimakamkan menjadi vampire atau tidak. Pihak terpelajar sendiri telah berusaha mengatakan bahwa keberadaan vampire hanyalah omong kosong. Mereka memberikan alasan mengenai kebangkitan itu sebagai penguburan dini terhadap jasad, dan juga kemungkinan terjangkitnya penyakit rabies yang menyebabkan rasa haus.

Meskipun demikian, Ratu Austria Marie Theresa sendiri harus menitahkan paranormal pribadinya untuk menyelidiki keberadaan vampire, sebelum akhirnya memutuskan bahwa vampire tidak pernah ada. Beliau mengeluarkan larangan penggalian kembali makam dan pembakaran jasad.

Tetapi hanya masalah waktu saja yang menunda berita-berita keberadaan makhluk abadi penghisap darah itu untuk kembali lagi.

http://www.chebucto.ns.ca/~vampire/vhist.html

Published in: on November 26, 2009 at 5:54 pm  Comments (1)  
Tags:

EPILOG

Apabila suatu saat nanti kau berada di kota Remington…….
Pastilah kau tidak akan melewatkan Remington Castle dengan arsitektur dan barang antiknya.
Tapi jangan sekali – kali kau berkeinginan bertemu dengan pemiliknya.
Mungkin dia adalah orang yang tidak ingin kau temui.
Apabila di kota ini kau bertemu dengan gadis yang tengah menekuni buku – buku science….
Jangan mendekatinya!
Jika kau seorang wanita, kau mungkin akan tertarik pada seorang pria gagah yang kau temui di pelabuhan…
Dia mungkin akan memanggilmu ˝Sarah˝…..
Hmm…pertimbangkanlah..!
Jika kau adalah seorang laki – laki, sudah pasti kau akan tertarik dengan sesosok gadis cantik nan sexy yang kau temui di bar….
Dia memang sangat menggoda….tapi jangan pernah tergoda!
Ataukah kau adalah orang yang suka berjalan-jalan sendirian?
Kusarankan jangan melakukannya di malam hari apalagi sesudah hujan turun.
Hindari saluran air!
Kau mungkin akan bertemu dengan seorang gadis yang cukup menarik..
Oh, no….jangan mengikuti aliran air!
Karena jika kau berhasil lolos dari Isis, kau sudah ditunggu oleh Osiris di tepi sungai….di mana seluruh saluran air bermuara……..

Published in: on November 25, 2009 at 7:18 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags:

Taking Over Me

you don’t remember me but i remember you
i lie awake and try so hard not to think of you
but who can decide what they dream?
and dream i do…

i believe in you
i’ll give up everything just to find you
i have to be with you to live to breathe
you’re taking over me

have you forgotten all i know
and all we had?
you saw me mourning my love for you
and touched my hand
i knew you loved me then

i believe in you
i’ll give up everything just to find you
i have to be with you to live to breathe
you’re taking over me

i look in the mirror and see your face
if i look deep enough
so many things inside that are just like you are taking over

i believe in you
i’ll give up everything just to find you
i have to be with you to live to breathe
you’re taking over me

i believe in you
i’ll give up everything just to find you
i have to be with you to live to breathe
you’re taking over me

Taking over me
Your Taking Over Me
Taking over me
Taking over me

by : Evanescene

~ Where are you, Sarah?

(Milosh Keat)

Published in: on November 25, 2009 at 7:17 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags:

My Last Breath

Hold on to me love
You know I can’t stay long
All I wanted to say was
I love you and I’m not afraid, oh
Can you hear me
Can you feel me in your arms?

I’ll miss the winter
A world of fragile things
Look for me in the white forest
Hiding in a hollow tree (Come find me)
I know you hear me
I can taste it in your tears

Holding my last breath
Safe inside myself
Are all my thoughts of you
Sweet raptured light, it ends here tonight

Closing your eyes to disappear
You pray your dreams will leave you here
But still you wake and know the truth
No one’s there

Say goodnight
Don’t be afraid
Calling me, calling me
As you fade to black

by : Evanescence

~ Kalau ini memang satu-satunya cara supaya kita bisa hidup bersama, akan aku lakukan untukmu, my love…

(Lirith Saint-Clair)

Published in: on November 25, 2009 at 7:11 pm  Comments (1)  
Tags:

Missing

Please, please forgive me,
But I won’t be home again.
Maybe someday you’ll have woke up,
And, barely conscious, you’ll say to no one:
Isn’t something missing?

You won’t cry for my absence, I know –
You forgot me long ago.
Am I that unimportant…?
Am I so insignificant…?
Isn’t something missing?
Isn’t someone missing me?

Even though i’d be sacrificed,
You won’t try for me, not now.
Though i’d die to know you love me,
I’m all alone.
Isn’t someone missing me?

Please, please forgive me,
But I won’t be home again.
I know what you do to yourself,
Shudder deep and cry out:
Isn’t something missing?
Isn’t someone missing me?

And if I bleed, i’ll bleed,
Knowing you don’t care.
And if I sleep just to dream of you
And wake without you there,
Isn’t something missing?
Isn’t something…

by : Evanescence

~ Apakah kehilangan orang yang kita cintai adalah harga yang harus kita bayar demi kehidupan yang abadi?

(Milosh Keat & Claudius Darling)

Published in: on November 25, 2009 at 6:58 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags:

Torniquet

i tried to kill the pain
but only brought more
i lay dying
and i’m pouring crimson regret and betrayal
i’m dying praying bleeding and screaming
am i too lost to be saved
am i too lost?

my God my tourniquet
return to me salvation
my God my tourniquet
return to me salvation

do you remember me
lost for so long
will you be on the other side
or will you forget me
i’m dying praying bleeding and screaming
am i too lost to be saved
am i too lost?

my God my tourniquet
return to me salvation
my God my tourniquet
return to me salvation

my wounds cry for the grave
my soul cries for deliverance
will i be denied Christ
tourniquet
my suicide

by : Evanescence

~ Tom, aku ingin menghilangkan rasa sakit ini…

(Mary Black)

Published in: on November 25, 2009 at 6:45 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags:

Imaginary

I linger in the doorway
Of alarm clock screaming
Monsters calling my name
Let me stay
Where the wind will whisper to me
Where the raindrops, as they’re falling, tell a story

In my field of paper flowers
And candy clouds of lullaby (flowers)
I lie inside myself for hours
And watch my purple sky fly over me (flowers)

Don’t say I’m out of touch
With this rampant chaos – your reality
I know well what lies beyond my sleeping refuge
The nightmare I built my own world to escape

Swallowed up in the sound of my screaming
Cannot cease for the fear of silent nights
Oh, how I long for the deep sleep dreaming
The goddess of imaginary light

by : Evanescence

~ Kapankah mimpi indah itu akan datang padaku?

(Angelique Blanchard)

Published in: on November 25, 2009 at 6:38 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags:

Haunted

long lost words whisper slowly to me
still can’t find what keeps me here
when all this time i’ve been so hollow inside
i know you’re still there

watching me wanting me
i can feel you pull me down
fearing you loving you
i won’t let you pull me down

hunting you i can smell you – alive
your heart pounding in my head

watching me wanting me
i can feel you pull me down
saving me raping me
watching me

by : Evanescence

~ is the vampire really exits?

Published in: on November 25, 2009 at 6:28 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: